Kamis, 10 Januari 2013



TOKOH PENDIDIKAN  ANAK  USIA  DINI



Berbagai  pemikiran  dari para tokoh pendidikan  anak  usia  dini  yang  mengemukakan kurikulum PAUD diantaranya adalah: [1]


A.   Filosofi Islam

Pemikir utama pendidikan anak usia dini adalah Nabi Muhammad S.A.W, beliau merupakan  tokoh  pendidikan  yang  menganjurkan  pendidikan  harus  dimulai sejak kecil, beliaulah yang menganjurkan pendidikan sebagai proses “life long of educaton”. Sabba Rasulullah  saw  menebutkan: “Utlubul ilma  minal mahdi illallahdi”, (tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat).  Sabda ini memberikan petunjuk  yang  tegas  tentang  pendidikan  semenjak  usia  dini, sabda  ini menekankan bahwa pendidikan merupakan proses yang kuntinuitas mulai  anak dalam gendongan orangtua sampai manusia meninggal duni, sabda ini memberi makna  bahwa  pendidikan  itu  penting  dan  tidak  ada  kata berhenti  untuk  belajar untuk memperoleh ilmu.

B.   Ki Hajar Dewantara
Dewantara nama aslinya adalah Suwardi  Suryaningrat  lahir  pada  tanggal  2  Mei  1899. Ki  Hadjar  memandang  anak  sebagai  kodrat  alam  yang  memiliki  pembawaan  masing-masing serta kemerdekaan untuk berbuat serta mengatur dirinya sendiri. Akan tetapi kemerdekaan itu juga sangat relatif karena dibatasi oleh hak-hak yang patut dimiliki oleh orang lain.
Dewantara  berpendapat bahwa anak-anak adalah mahluk hidup yang memiliki kodratnya masing-masing.  Kaum  pendidik  hanya  membantu  menuntun  kodratnya  tersebut, jika anak memilki kodrat yang tidak baik, maka tugas pendidik untuk membantunya menjadi baik, jika  anak  sudah  memiliki  kodrat  yang  baik,  maka  ia  akan  lebih  baik  lagi  jika dibantu melalui pendidikan. Kodrat dan lingkungan merupakan konvergensi yang saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain.
Rentang usia  dalam  pendidikan  dibagi  menjadi  3  masa yaitu  (1)  Masa kanak-kanak atau kinderperiod usia 1 – 7 tahun, (2) Masa pertumbuhan jiwa dan pikiran usia 7 – 14 tahun, (3) Masa soialperiod atau terbentuknya budi pekerti usia 14 – 21 tahun. Sesuai  dengan  rentang  usia  tersebut maka  cara  mendidik  untuk  masa  kanak-kanak adalah  dengan  memberi  contoh  dan  pembiasaan untuk  masa  pertumbuhan  jiwa  dan pikiran  dengan  cara  pengajaran  dan  perintah / paksaan / hukuman  dan  untuk  masa sosial periode dengan cara laku dan pengalaman lahir dan batin.
Dewantara  mendirikan “Taman Siswa” diperuntukan bagi anak usia dibawah 7 tahun dengan nama “Taman Anak” yang seterusnya dikenal dengan  “Taman Indria”. Perkembangan taman siswa berikutnya berdiri sekolah rendah (sekolah dasar) dan  sekolah  lanjutan  pertama.  Pembagian  sekolah rendah disesuaikan  dengan perkembangan anak menjadi dua bagian yaitu bagian “Taman Anak” dari kelas I sampai dengan kelas III untuk anak berumur 7 sampai 9 tahun dan “Taman Muda” dari kelas IV sampai dengan kelas VI untuk anak usia 10 sampai 12 tahun. 
Taman  Indria  bersemboyan  “Tut  wuri  handayani”  artinya  bahwa  taman  ini memberi kebebasan yang luas selama tidak membahayakan anak. Sistem yang dipakai  adalah  sistem  “among” dengan maksud memberi kemerdekaan, kesukarelaan, demokrasi,  toleransi,  ketertiban,  kedamaian,  kesesuaian  dengan  keadaan dan hindari perintah dan paksaan. Sistem ini mendidik  anak menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka pikirannya dan merdeka tenaganya serta dapat mencari pengetahuan sendiri. Filosofi Ki Hajar Dewantoro yang dianut adalah asah, asih dan asuh.

 C.   Martin Luther King (1483 – 1546)
Martin Luther menekankan pada anak agar menggunakan sekolah sebagai sarana untuk mengajar anak membaca. Ia juga percaya bahwa keluarga sebagai institusi yang paling penting merupakan peletak dasar pendidikan  bagi anak. Tanpa pendidikan maka anak tidak  akan  mendapatkan  bekal  bagi  hidupnya  di  masa yang akan datang, karena itu pendidikan dan sekolah  bukan  hanya  sekedar  tempat  anak  bersosialisasi  saja,  tetapi juga memiliki makna sebagai sarana religius dan penegak moral.

D.   John Amos Comenius (1592 – 1670)
Comeinus  sangat  percaya  bahwa  pendidikan  harus  dimulai  sejak  dini.  Pendidikan  yang berlangsung  harus  mengikuti  perkembangan  alam  anak  (kematangan)  dan  memberi kesempatan pada anak untuk menggunakan seluruh indranya. Pembelajaran semacam itu  merupakan  pembelajaran  yang  paling  baik karena  pengalaman-pengalaman sensorial  yang  dialami  anak    usia  dini  merupakan  dasar  semua  pembelajaran,  oleh karena  itu  Comenius  meyakini  bahwa  penggunaan  buku  yang  ada  ilustrasinya  akan sangat membantu mengembangkan kemampua anak.

E.   Johann  Heinrich  Pestalozi (1746 – 1827)
Johann  Heinrich  Pestalozzi  adalah  seorang  ahli pendidikan  Swiss  yang  hidup  antara  1746-1827. Pestalozzi  adalah  seorang  tokoh  yang  memiliki pengaruh  cukup  besar  dalam  dunia  pendidikan. Pestalozzi  berpandangan  bahwa  anak  pada  dasarnya memiliki  pembawaan  yang  baik.  Pertumbuhan  dan perkembangan  yang  terjadi  pada  anak  berlangsung secara  bertahap  dan  berkesinambungan.  Lebih  lanjut ia mengemukakan  bahwa  masing-masing  tahap pertumbuhan  dan  perkembangan  seorang individu haruslah tercapai dengan sukses sebelum berlanjut pada tahap berikutnya. Permasalahan  yang muncul dalam suatu tahap perkembangan akan menjadi hambatan  bagi  individu  tersebut  dalam  menyelesaikan  tugas  perkembangannya  dan  hal  ini akan memberikan pengaruh yang cukup besar pada tahap berikutnya. 
Sangat  menekankan  pada  pengembangan  aspek  sosial  sehingga  anak  dapat beradaptasi dengan lingkungan sosialnya dan mampu menjadi anggota masyarakat yang berguna. Pendidikan sosial akan berkembang jika pendidikan dimulai dengan pendidikan keluarga  yang  baik.  Peran  utama  pendidikan  sangat  ditekan  pada  ibu  yang  dapat memberikan sendi-sendi dalam pendidikan jasmani, budi pekerti dan agama.
Pandangan  dasar  Pestalozzi  yang pertama  menekankan  pada pengamatan alam.  Semua  pengetahuan  pada  dasarnya  bersumber  dari  pengamatan  yang  akan menimbulkan  pengertian, namun  jika  pengertian  tersebut  tanpa  didasari  pengamatan maka akan menjadi sesuatu pengertian yang kosong (abstrak).
Pandangan kedua adalah  menumbuhkan keaktifan  jiwa  raga  anak.  Melalui keaktifan  anak  akan  mampu  mengolah  kesan  (hasil)  pengamatan  menjadi  suatu pengetahuan. Keaktifan  akan  mendorong  anak  melakukan  interaksi  dengan lingkungannya.
Pandangan ketiga  adalah  pembelajaran  pada  anak  harus  berjalan  secara teratur setingkat demi setingkat atau bertahap. Prinsip ini sangat cocok dengan kodrat anak  yang  tumbuh  dan  berkembang secara  bertahap.  Pandangan  dasar  tersebut membawa  konsekuensi  bahwa  bahan  pengembangan  yang  diberikan  pada  anak  pun harus  disusun  secara  bertingkat,  dimulai  dari  urutan  bahan  yang  termudah  sampai tersulit, dari bahan pengembangan yang sederhana sampai yang terkompleks.

F.    Jean Jacques Rosseau (1712 – 1778)
Jean  Jacques  Rousseau  yang  hidup  antara  tahun  1712 sampai  dengan  tahun  1778 dilahirkan di Geneva, Swiss tetapi sebagian besar waktunya dihabiskan di Perancis. Rousseau  selalu  menekankan  pembelajaran  yang  dilakukan  harus  menggunakan pendekatan  alam  yang  disebutnya  pendekatan  naturalistik.  Pendidikan  naturalistik membiarkan  anak  tumbuh  tanpa  intervensi  dengan  cara  tidak  membandingkan  anak satu  sama  lain  serta  memberikan  kebebasan  anak  untuk  mengeksplorasi  tanpa membahayakan  diri  sendiri  dan  orang  lain.  Sebagai  seorang  naturalist  maka  Rousseau meyakini  agar  orang  dewasa  tidak  memberikan  batasan-batasan  pada anak  karena pengaruh  batasan  tersebut  sangat  besar yaitu  menghambat  perkembangan  anak. Kesiapan anak merupakan faktor penting dalam proses pembelajaran.

 G.   Frederich Wilhelm Frobel (1782 – 1852)
Froebel yang bernama lengkap Friendrich Wilheim August Froebel, lahir di Jerman pada  tahun 1782 dan wafat pada tahun 1852. Pandangannya tentang anak banyak dipengaruhi oleh Pestalozzi serta para filsuf Yunani.
Froebel memandang anak sebagai individu yang pada kodratnya bersifat baik. Sifat yang buruk timbul karena kurangnya pendidikan atau pengertian  yang dimiliki oleh anak tersebut. Setiap  tahap  perkembangan  yang  dialami  oleh  anak harus dipandang sebagai suatu kesatuan yang utuh. Anak memiliki  potensi  dan  potensi  itu  akan  hilang  jika tidak dibina dan dikembangkan.
Frobel merupakan salah seorang tokoh pendidikan anak yang banyak memberikan pengaruh dalam pemikiran baru (modern) dalam pengembangan anak usia dini khususnya Taman Kanak-Kanak. Walaupun ia banyak mempelajari visi kependidikan Pestalozzi, namun Frobel banyak memberikan “critical thinking‟ pada sekolah Pestalozzi terutama dari segi kurangnya keterpaduan model pelaksanaan pembelajaran. Frobel lahir tahun 1782 di Oberweiszbach (Jerman). Pola pendidikan yang demokratis yang dikembangkannya banyak menimbulkan konfrontasi dengan pihak pemerintah sehingga ia dianggap sebagai pemberontak.
Pada tahun 1840 untuk merealisasikan cita-citanya Frobel meresmikan sebuah lembaga pendidikan yang diberi nama “Kindergarten‟. Walaupun banyak tantangan (sampai-sampai ditutup lembaga pendidikan tersebut) tidak membuat Frobel patah semangat sehingga ia berniat untuk mengembangkan cita-citanya tersebut di Amerika. Namun sebelum cita-cita terwujud ia meninggal tahun 1852.
Pandangan dasar dari Frobel  pengembangan otoaktivitas merupakan prinsip utama. Anak didik harus didorong untuk aktif sehingga dapat melakukan berbagai kegiatan (pekerjaan) yang produktif.
Prinsip kedua adalah kebebasan atau suasana merdeka. Otoaktivitas anak akan tumbuh dan berkembang jika pada anak diberikan kesempatan dalam suasana bebas sehingga anak mampu berkembang sesuai potensinya masing-masing. Melalui suasana bebas atau merdeka, anak akan memperoleh kesempatan mengembangkan daya fantasi atau daya khayalnya, terutama daya cipta untuk membentuk sesuatu dengan kekuatan fantasi anak.
Prinsip ketiga yang dikemukakan Frobel adalah pengamatan dan peragaan. Kegiatan ini dimaksudkan terutama dalam mengembangkan seluruh indra anak. Prinsip ini selaras dengan apa yang telah dikemukakan Pestalozzi terdahulu. Agar pembelajaran tidak verbalistik maka anak harus diberi kesempatan untuk melakukan pengamatan terhadap berbagai kondisi lingkungan alam di sekitar. Pada lingkungan alam yang jauh atau sulit untuk diamati maka dapat dilakukan dengan menggunakan prinsip peragaan. Pendidik dapat meragakan hal-hal yang tidak mungkin diamati anak secara langsung, baik berupa lingkungan fisik, sosial maupun keagamaan.

H.   Maria Montessori  (1870-1952)
Maria Montessori seorang dokter wanita Italia pertama. Montessori  lahir di Chiaravalle sebuah propinsi kecil di Ancona, Italia pada tahun 1870. Reputasinya dibidang pendidikan anak dimulai setelah Montessori lulus dari sekolah kedokteran. Dia bekerja disebuah klinik psikiatri Universitas Roma. Pekerjaannya tersebut menyebabkan dia berinteraksi langsung dengan masalah cacat mental.
Pemikiran Montessori yang berkaitan dengan anak cacat mental akhirnya ditindaklanjuti dengan pendirian Casai dei Bambini atau Children’s House di daerah-daerah kumuh di Roma tahun 1907. Lingkungan diatur sedemikian rupa sehingga dapat digunakan oleh anak-anak cacat mental di bawah lima tahun.
Ada prinsip-prinsip yang diyakini oleh Maria Montessori yaitu:
1)    Menghargai anak
Setiap  anak  itu  unik  sehingga  pendidik  dalam  memberikan  pelayanan  harus  secara individual. Anak memiliki kemampuan yang berbeda satu dengan yang lainnya, oleh karena  itu  pendidik  harus  menghargai  anak  sebagai  individu  yang  memiliki kemampuan yang luar biasa.
2)    Absorbent mind (pemikiran yang cepat  menyerap)
Informasi  yang  masuk  melalui  indra  anak  dengan  cepat  terserap  ke  dalam  otak. Daya  serap    otak  anak  dapat  diibaratkan  seperti  sebuah  sponse  yang  cepat menyerap  air, untuk  itu  pendidik  hendaknya  jangan  salah  dalam  memberikan konsep-konsep pada anak.
3)     “Sensitive periods” (masa peka)
Masa peka dapat digambarkan sebagai sebuah pembawaan  atau  potensi  yang  akan  berkembang  sangat  pesat  pada  waktu-waktu tertentu.  Potensi  ini  akan  mati  dan  tidak  akan  muncul  lagi  apabila  tidak  diberikan kesempatan untuk berkembang, tepat pada waktunya.
4)    Lingkungan yang disiapkan
a)    Pendidik  hendaknya  menyiapkan suatu  lingkungan  yang  dapat  memunculkan keinginan anak untuk mempelajari banyak hal. Lingkungan yang disiapkan harus dirancang  untuk  menfasilitasi  kebutuhan  dan  minat  anak,  sehingga  pendidik harus  meyediakan  sarana  dan  prasarana  yang  sesuai  dengan  kebutuhan  dan minat anak. 
b)    Lingkungan  ditata  dengan  berbagai  setting  sehingga  anak  tidak  bergantung dengan  orang  dewasa.  Lingkungan  yang  disiapkan  ini  membuat  anak  bebas untuk bergerak, bermain dan bekerja.
5)    Pendidikan diri sendiri
Lingkungan  yang  disiapkan  oleh  pendidik memungkinkan  anak  dapat bereksplorasi,  berekspresi,  mencipta  tanpa  dibantu  olah  orang  dewasa.  Hasil  yang diperoleh anak karena karyanya sendiri jauh luar biasa dan menakjubkan dibanding jika  mereka  dibantu.  Jadi  sebenarnya  anak  dapat  belajar sendiri jika kita memberi fasilitas sesuai  dengan potensi dan minatnya.

 I.    John Locke (1632-1704)
John Locke adalah pencetus teori “Tabula Rasa” yang menganggap bahwa anak sebagai kertas putih atau tablet yang kosong. Anak hidup di dalam lingkungannya yang sangat berpengaruh  dalam  proses  pembentukan  seorang  anak.  Melalui  pengalaman-pengalaman yang dilalui anak bersama lingkungannya akan menentukan karakter anak. Dia  sangat  mempercayai  bahwa  untuk  mendapatkan  pembelajaran  dari lingkungannya maka satu-satunya cara bagi anak adalah mendapatkan pelatihan-pelatihan sensoris.

Beberapa tokoh pendidikan anak usia dini yang sudah menjadi teori PAUD dalam pembuatan kurikulum pelaksanaan pendidikan anak usia dini antara lain:

A.   Howard Gardner (1943)
Teori Howard Gardner muncul dalam jaman kita hidup sekarang ini. Ia mengatakan bahwa pada hakekatnya setiap anak adalah anak yang cerdas. Kecerdasan bukan hanya dipandang dari  faktor  IQ  saja  tetapi  juga  ada  kecerdasan-kecerdasan  lain  yang  akan  mengantarkan anak pada kesuksesan.
Macam-macam kecerdasan menurut Gardner adalah:
1)    Kecerdasan bahasa: kecerdasan anak dalam mengelola kata-kata.
2)    Kecerdasan logika: kecerdasan dalam bidang angka dan alasan logis.
3)    Kecerdasan musik: kecerdasan dalam bidang musik.
4)    Kecerdasan gerak (kinestetik): kecerdasan dalam mengolah anggota tubuh.
5)    Kecerdasan gambar (spasial): kecerdasan anak  dalam permainan garis,  warna dan ruang.
6)    Kecerdasan  diri  (intrapersonal): kecerdasan  dalam  bidang  pengenalan  terhadap  diri sendiri.
7)    Kecerdasan bergaul  (interpersonal): kecerdasan dalam membina hubungan dengan orang lain.
8)    Kecerdasan alami (naturalist): kecerdasan yang berhubungan dengan alam.
9)    Kecerdasan rohani (spiritual): kecerdasan mengolah rohani.
Jadi Gardner memandang bahwa setiap anak memiliki peluang untuk belajar dengan gaya masing-msing anak.

B.   John Bowlby (1907 – 1990)
John  Bowlby  terkenal  sebagai  salah  seorang  pelopor  teori  Ethologi lahir  di London.  Dia  merupakan  seorang  guru  di  Proggessive Schools for Children yang memberi perawatan  medis  dan  latihan  psikoanalitik. Teori  Bowlby  yang  tekenal adalah  tentang  teori attachment.  Dia  mengemukakan  perkembangan attachment bayi.  Attachment  yang  dimaksud adalah  keteraturan,  kesenangan,  keinginan  untuk melekat    terhadap  orang-orang  yang  diakrabi.    Salah  satu attachment bayi  adalah menangis  ketika  ditinggalkan  pengasuhnya  dan  tersenyum  ketika  pengasuhnya datang  atau  memberi  makan.  Menurut  Bowlby  meskipun  respon    sosial  bayi  pada awalnya  tanpa  diskrimisasi.
Anak  yang  kehilangan  kesempatan  untuk  memperoleh hubungan sosial dengan orang lain akan mempengaruhi perkembangan sosial anak, bila  anak  kehilangan  kesempatan  untuk  megembangkan  hubungan anak dengan lingkugan  sosial    selama  periode  bayi  maka  mungkin  hubungan  sosial  anak akan menjadi  menyimpang  seletah  dewasa.
Bayi  yang  kehilangan  kontak  yang memuaskan  dengan  manusia  lain  mereka akan  kesulitan  untuk  mengembangkan tingah  laku  sosial  yang    sesuai.  Ada  dua ketekunan pada  usia dini yaitu “separate enciety dan stager  anciety”. anak-anak  yang  sering  ditinggal, petama anak akan menangis  dan  menolak  semua  bentuk  pengasuhan,  berkembang melalui  periode despair, menjadi  quiet,  menarik  diri  dan  pasif. Pengasuh  hendaknya  memiliki  pola yang  tidak  berbeda  dengan orangtuanya. Orang tua harus  memberikan  perhatian, kasih sayang dan perasaan aman pada bayi agar anak berkembang dengan baik.

C.   Jean Piaget (1907–1980)
Piaget  merumuskan  tahap  perkembangan intelektual    anak  diantaranya adalah: 1) Tahap  sensori  motorik (usia  0-2  tahun).  Pada  tahap    ini  anak  berpikir adalah memahami diri dan lingkungannya melalui kesan-kesan sensori dan gerakan-gerakan  motoriknya. Pikiran  anak  berkembang  dengan  pesat,  berpikir anak belum sistematis,  sering meloncat-loncat  dari  satu  ide ke  ide  lain dan belum logis, salah satu simbul yang digunakan  adalah bahasa, sehingga bahasa anak berkembang dengan  pesat, mereka mulai mengunakan simbol ketika mereka  menggunakan objek atau tindakan untuk menggambarkan  sesuatu  benda  yang  hilang  (Ginsburg dan  Opper  dalam  Crain,  1992).
Anak  berpikir  melalui  kesan-kesan  yang  diterima sensorinya,  seperti  melalui  melihat,  mendengar,  meraba,  mencium,  mengecap, membau dan  melalui  gerakan-gerakan  yang  dilakukan.  Untuk  mengembangkan berpikir  anak  dalam  periode  berpikir  sensori  motorik  adalah  memberikan  stimulasi melalui sensori-sensori anak. Misalnya untuk mengembangkan berpikir anak melalui indera  penglihatan  adalah  memperlihatkan  kepada  bayi  berbagai  warna,  berbagai bentuk,  berbagai  pola/ukuran,  benda  yang  bergerak  dan  memberikan  kebebasan untuk  bergerak,  menjangkau,  memanipulasi  benda,  dll. 2) Tahap  preoperational konkret  (usia 2 – 6 tahun). Pada usia ini anak menurut  Piaget sudah mulai berpikir secara  mental  meskipun  belum  sempurna.  Pada  usia  ini  hayalan  masih mendominasi  pikiran  anak, anak sering  menghayalkan  sesuatu  sebagaimana kenyataan.
Ciri utama berfikir anak usia dini adalah berpikir egosentris, kemampuan merekam tinggi, rasa ingin tahu tinggi, sering melakukan dusta hayal, animistik, anak sudah  dapat  menggunakan  simbol-simbol sedehana  untuk  menyatakan  perasaan dan pikirannya. Ide-ide Piaget ini memiliki implikasi  dalam pendidikan anak usia dini, khususnya dalam  pengembangan  berpikir anak usia  dini.  Pertama,  menekankan bahwa anak adalah individu yang mampu membangun pengalamannya sendiri, oleh karena  itu  proses pendampingan harus  berorientasi  pada  anak,  melalui  proses eksplorasi,  intervensi dan  membangun  pengalaman   anak sendiri  melalui  aktivitas bebas.
Pendidikan anak usia  dini diharapkan tidak memperbaiki pengalaman anak, tetapi menyediakan  lingkungan,  pengalaman  dan  material    belajar    yang  diminati  dan  menantang  anak  untuk  melakukan eksplorasi pengalaman anak dan menyelesaikan  masalah  secara  mandiri.  Pentingnya  penekanan  pemberian kesempatan pengajaran yang mempertimbangkan tingkat  perkembangan  anak.  Menurut  Piaget  belajar  untuk  anak  harus  melalui  proses  aktif    menemukan  dan harus sesuai dengan tahap perkembangan anak.  Pendidikan dimulai melalui  anak belajar melalui pengetahuan langsung  dan interkasi sosial

 D.   Lev Vigotsky (1896 – 1934)
Vigotsky adalah seorang ahli perkembangan berkebangsaan Rusia. Teorinya disebut dengan teori belajar  sosial. Vigotsky mengemukakan  bahwa perkembangan  manusia  melalui  interaksi  sosial yang memegang  peranan  penting dalam  perkembangan  kognitif  anak.  Menurtut  Vigotsky    anak  belajar  melalui  dua tahapan yaitu interkasi dengan orang lain, orang tua,  saudara,  teman sebaya,  guru dan  belajar  secara  individual  melalui    mengintegrasikan  segala  sesuatu  yang dipelajari  dari orang lain dalam  struktur  kognitifnya.
Vigotsky mengemukakan tiga perlengkapan manusia  yaitu tools of the minds, zone  of proximal  development dan scoffolding. Tools  adalah  alat  untuk  membantu  mempermudah  kerja,  seperti  pahat,  mesin  potong,    gergaji,  pisau dan mesin  pangkas adalah  alat  yang memudahkan  kerja  fisik  manusia.  Menurut  Vigotsky  kerja  mental  juga  akan  lebih mudah  jika  ada  alat  pendukungnya  yang  ia  sebut  sebagai tools  of  the  minds yang berfungsi  untuk  mempermudah  anak  memahami  suatu  fenomena,  memecahkan masalah, mengingat dan untuk berfikir. Misalnya, kelereng, buah-buahan,  lidi, biji-bijian adalah  sejenis alat  yang  dapat  membantu anak memahami  konsep  bilangan.
Melalui alat ini akan dapat menghubungkan benda dengan bahasa simbolik seperti konsep bilangan satu, dua, tiga, empat,  lima dan  enam.  Konsep zone  of  proximal development  adalah  suatu  konsep  tetang  hubungan  antara  belajar  dengan perkembangan  anak.  Istilah  zone  menggambarkan  bahwa  perkembangan merupakan  suatu  daerah  atau  medan.    Perluasan  suatu  medan  perkembangan  ditentukan  oleh  bantuan  orang  yang  lebih  ahli  yang  disebut scaffolding.
Scaffolling adalah  bantuan  yang  diperoleh  anak  dari  seseorang  yang  lebih  mampu,  lebih mengetahui, dan lebih terampil dalam  ZPD untuk membantu anak agar memperoleh hasil  belajar  yang lebih  tinggi. Bentuk  bantuan  misalnya menyediakan  objek, menunjukan bagian objek, mnggunakan gambar,  menunjukan cara  menggunakan  sesuatu atau  memberikan  alat bantu  pengukuran.
Teori  belajar Vigotsky memiliki empat prinsip umum yaitu: (a) Anak mengkonstruksi pengetahuan akan  lebih  mudah  bila  tersedia tools  of  minds yang  lebih  kaya  dan  bervariasi,  (b) Belajar  terjadi  dalam  kontek  sosial, oleh  karena  itu untuk  membantu mengoptimalkan perkembangan anak, dia harus dilibatkan sebanyak mungkin dalam interaksi  sosial  dengan  sebaya,  guru,  orang  tua  dan  orang  dewasa  lainnya,  (c) Belajar  mempengaruhi perkembangan  mental (d)  Bahasa  memegang  peranan penting  dalam  membantu  perkembangan mental  anak, oleh  karena  itu,  untuk mengoptimalkan  perkembangan  berpikir  anak,  pengembangan  bahasa  atau  literasi anak  harus  pula  dioptimalkan  melalui  melibatkan anak  dalam  aktivitas  literasi  di rumah,  di lembaga  PAUD  dan  di  masyarakat.
Vigotsky  menyakini  bahwa  anak memiliki kemampuan secara aktif membangun pengetahuan melalui interaksi sosial di lingkungannya.  Kontek  sosial  mempengaruhi  perkembangan  berpikir,  sikap  dan tingkah  laku  anak.  Kontek  sosial adalah  meliputi  seluruh  lingkungan  dimana  anak tinggal  yang  secara  langsung    atau pun  tidak  langsung  dipengaruhi  oleh  sistem budaya  yang  berlaku  dalam  masyarakat    dimana  anak  hidup.  Vogotsky mengemukakan tiga konteks sosial yaitu (a) Interaktif, orang lain atau teman sebaya yang  sedang  melakukan  interaksi  dengan anak,  (b)  Tingkat  struktural  yaitu  konteks sosial  yang  memiliki  struktur  seperti  anggota  keluarga, lembaga  PAUD,  dan masyarakat sekitar (c) Tingkat struktur sosial yang meliputi keseluruhan  berbagai hasil kreasi  anggota masyarakat.

 [1]    Berk, E. Laura, Child Development (New York: Allyn and  Bacon, 1994), h.157.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar